Kamis, 06 Juni 2013

Kelompok 11
Boy Ridho Valentino Pasaribu (121301044)
Netova Sibuea (121301058)
Hengki Farnando Sitanggang (121301076)
Delius Fridolin Marpaung (121301096)
Imelda Anggraeni Sibarani (121301100)


Laporan Hasil Observasi
A.           PENJELASAN DESKRIPSI SEKOLAH
Nama Sekolah                                      :    SMA Swasta Methodist 1
Alamat                                                  :    Jl. Hang Tuah no. 4 Medan
Uang Sekolah                                       :    Rp. 650.000,-
Konsep e-learning yang digunakan      :    Individual Online dan Offline
Lama waktu penggunaan e-learning    :    2008-sekarang


B.            URAIAN OBJEKTIF OBSERVASI
Pelaksanaan                                 :    Kamis, 23 Mei 2013
Kelas yang di Observasi             :    Kelas X Plus
Lama Observasi                          :    2 jam pelajaran x 45 menit = 90 menit
Pembagian dalam Observasi       :    1.  Boy Ridho Valentino Pasaribu à Motivasi
                                                         2.  Netova Sibuea àIdentitas sekolah, uraian objektif observasi, dan dokumentasi
                                                         3. Hengki Farnando Sitanggang à Orientasi Belajar
                                                         4.  Delius Fridolin Marpaung à Manajemen Kelas dan Dinamika Pembelajaran
                                                         5. Imelda Anggraeni Sibarani à Teori Belajar


C.            LAPORAN HASIL OBSERVASI
a.         Teori Belajar
Teori belajar di kelas yang menjadi fokus observasi ini menggunakan teori belajar kognitif, dimana pada teori ini belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif dari setiap siswa/inya. Saat observasi, siswa/i sedang belajar geografi tentang cuaca dan iklim. Disini, siswa/i diberikan kesempatan untuk melakukan pengamatan terhadap cuaca dan iklim, yang didukung pula oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan-pertanyaan dari guru. Guru banyak memberikan rangsangan kepada siswa/i agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari, dan menemukan berbagai hal tentang cuaca dan iklim. Intinya, guru menetapkan metode belajar mengajar di kelas dan dalam pembelajaran, guru lebih banyak aktif dari pada murid.

b.        Motivasi
1.         Self
-            Self Concept àTinggi (dilihat dari tingginya level pengetahuan akan teknologi yang digunakan, misal penggunaan web browser dan situs yang membantu pembelajaran)
-            Self Esteem à Rendah (dilihat dari kurangnya perhatian kepada guru, tidak aktif menjawab pertanyaan guru)
-            Self Efficacy à Cukup Tinggi (adanya kesiapan diri untuk memulai pelajaran, dilihat dari banyaknya murid yang sudah mengetahui materi sebelumnya)
-            Self Regulation à Rendah (mendominasi kebisingan, kurang terlihat akan adanya regulasi satu dengan yang lainnya)

2.         Goal Setting
-            Mastery Goal àKurang (niat rendah, pengajuan pendapat yang asal-asalan, kurang banyaknya membuka diri terhadap pengetahuan umum)
-            Performance Goal à Kurang (tidak memiliki bahan, berisik, melawan, asik sendiri dengan kesibukan dan temannya, tidak adanya konsentrasi secara keseluruhan, kebanyakan mengobrol)

Guru pengajar sendiri terlihat kurang mencoba memotivasi siswa, bahkan dirinya sendiri masih kurang menguasai kondisi kelas. Motivasinya untuk mengajar pun terlihat cukup baik, kurang paham akan media yang dipakai, topik kurang dikuasai, namun penyampaian materi dilakukan dengan pelafalan yang jelas dan akurat.
*   berbicara mengenai motivasi untuk meraih sesuatu, kami tidak dapat melihatnya dengan pasti, pemaparan mengenai motivasi ekstrinsik dan intrinsik siswa dalam pembelajaran hanya akan membuat kelompok menginterpretasikannya.

c.         Orientasi Belajar
Didalam pembelajaran, yang menjadi orientasi atau pusat pembelajaran adalah guru atau Teacher Center Learning (TCL), dimana sepanjang pembelajaran yang berlangsung, guru selalu memberikan materi yang akan dibahas atau yang akan dipelajari oleh murid-muridnya. Pembelajaran disini lebih fokus pada peran penting guru setiap aspek pembelajaran. Disini, guru telah merancang serta menyusun bahan yang akan diajarkan kepada murid-muridnya, terlihat dari bahan materi yang dibawakan oleh guru, telah sedemikian rupa dipersiapkan melalui file di laptop, kemudian disajikan melalui proyektor.
Orientasi pembelajaran TCL ini juga terlihat pada saat guru mengajar. Hal lain yang mendukung adalah adanya pengontrolan kondisi kelas yang keseluruhannya ditangani oleh guru. Guru pemberi materi juga memberikan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada murid-murid, kemudian memilih beberapa siswa yang harus menjawabnya.
Kontribusi ataupun peran dari siswa terlihat sangat minim. Siswa/i kurang berperan aktif dalam pembelajaran, hal ini dikarenakan peran siswa dibatasi hanya kepada penerimaan materi melalui guru. Peran siswa/i yang minim ini juga terlihat dari ketidakseriusan siswa/i merespon perkataan guru maupun merespon pertanyaan guru pengajar.

d.        Manajemen Kelas
Salah satu faktor yang dapat memaksimalkan pembelajaran di sekolah adalah manajemen kelas. Hal ini kemudian menjadi salah satu fokus utama dalam observasi ini.
Dari hasil pengamatan kami, kelas tempat kami melakukan observasi mempunyai luas sekitar 7x7 meter à 49m2, terdiri atas 4 baris tempat duduk, masing-masing baris terdiri atas 4 meja dan bangku yang masing-masingnya diperuntukkan kepada 2 orang. Jumlah siswa/i didalam kelas ada sebanyak 32 orang, dengan siswa laki-laki sebanyak 13 orang dan perempuan sebanyak 19 orang.
Penataan kelas pada fokus observasi ini terlihat kurang baik. Adanya kepadatan kelas yang dikarenakan jarak/ ruang antara baris yang cukup sempit, ditambah keberadaan loker siswa, adanya lemari guru, meja guru yang cukup besar, keberadaan sumber arus yang berserakan, yang tentunya membuat pemandangan kelas cukup berantakan: kabel dimana-mana, seperti kabel laptop bagi siswa yang membawa, dan yang paling sering terlihat adalah kabel charger handphone, yang kemudian berdampak mengganggu konsentrasi belajar. Hal ini terlihat dari adanya murid laki-laki dibagian belakang yang bermain game“balapan” ketika proses pembelajaran berlangsung, ditambah lagi murid perempuan yang menggunakan headset, memegang handphone dengan asiknya mengutak-atik.
Untuk gaya penataan kelas, pada fokus tempat observasi ini, sekolah menerapkan gaya auditorium tradisional, dimana semua murid duduk menghadap guru. Penataan ini tentunya membatasi kontak tatap muka murid dengan guru. Gaya auditorium tradisional ini juga diperlengkapi dengan sarana ruang yang sempit, terlihat dari bangku yang cukup tinggi sehingga tidak sebanding dengan posisi duduk murid terhadap meja, murid terlihat lebih membungkuk.
Untuk desain kelas, fokus tempat observasi terlihat cukup gelap, cahaya yang cukup remang, serta berantakan. Tidak ada lukisan atau tambahan nilai seni di dinding kelas, hanya dua foto pemimpin negara yang terpaku didepan kelas didampingi foto “Garuda Pancasila”. Penambahan loker, yang kemudian tidak dipergunakan dengan baik, membuat kelas menjadi semakin sempit kelihatannya.
Guru sebagai pusat pembelajaran (TCL), menerapkan gaya manajemen kelas otoritarian, yang adalah gaya yang restriktif dan punitif. Fokus utama guru hanya menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pembelajaran. Terlihat pada saat observasi bahwa guru hanya mengontrol kondisi melalui beberapa kali permintaan agar murid tertib, dan bukannya menekankan tentang informasi yang disampaikannya.


D.           RANGKUMAN HASIL OBSERVASI
1.        Menurut Kelompok
Dari hasil pengamatan (observasi) kami, kami dapat merangkum bahwa pembelajaran dengan metode e-learning sudah cukup memuaskan. Individual online dan individual offline menjadi pilihan metode e-learning yang digunakan di SMA kelas X Plus Methodist 1 ini. Sistematika pembelajaran dengan menggunakan media proyektor sebetulnya cukup membantu proses pembelajaran, apalagi ketika belajar Geografi (ketika kami mengobservasi). Dengan adanya bantuan internet, guru dapat menampilkan secara langsung tentang kondisi iklim, cuaca, suhu dan sebagainya yang berhubungan dengan topik tersebut.
Dari observasi kami, kelas pada saat itu menerapkan teori belajar kognitif. Keberhasilan pembelajaran disesuaikan dengan pola pengajaran yang disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa.
Untuk motivasi belajar sendiri, kami melihat bahwa adanya self concept dan self efficacy yang cukup tinggi, self esteem murid yang rendah, serta adanya self regulation murid yang rendah pula. Kami juga melihat bahwa kurangnya goal setting dari murid. Telihat dari dinamika pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung.
Di dalam pembelajaran, kami juga melihat bahwa yang menjadi pusat pembelajaran adalah gurunya (Teacher Center Learning). Selama observasi berlangsung, kelompok melihat cukup besarnya peran guru, seperti penyusunan bahan ajar yang awalnya sudah disiapkan oleh guru. Peran murid pun hanya terbatas pada keadaan ketika guru bertanya, kemudian murid menjawab.
Yang terakhir, untuk manajemen kelas, kelas X Plus ini menerapkan gaya auditorium tradisional, dimana murid-murid duduk tepat berhadapan (tatap muka) secara langsung dengan guru sebagai pusat pembelajaran. Guru pengajar sendiri menerapkan gaya manajemen kelas yang otoritarian, yang adalah gaya restriktif dan punitif, dimana fokus utama pengajar adalah menjaga ketertiban kelas, dan kurang menekankan pada penyampaian informasi.




2.        Menurut Pandangan Pribadi
Menurut saya, penggunaan e-learning di SMA ini sudah diakui dapat membantu proses belajar mengajar terlihat dari adanya pengajar yang menggunakan konsep e-learning. Mayoritas penggunaan memang masih individual online dan offline. Menurut pandangan saya, pengetahuan sekolah mengenai group sinkron dan tidak sonkron belum terlalu baik sehingga penggunaan konsep itu pun masih jarang bahkan bisa dikatakan belum ada di sekolah ini. E-learning individual online dan offline sudah cukup baik. Dimana melalui penjelasan kepala sekolah dapat saya tangkap bahwa murid dapat menerima cara belajar tersebut.


E.            TESTIMONI TENTANG PERENCANAAN DAN PROSES OBSERVASI
1.        Boy Ridho Valentino Pasaribu (121301044)
Tugas observasi pendidikan adalah observasi pertama yang saya lakukan selama di psikologi. Awalnya saya tidak tahu harus bagaimana mengobservasi seseorang, tapi dengan adanya dukungan teman-teman dan informasi dari senior, saya menjadi percaya diri. Walaupun hasil tidak maksimal namun saya sudah melakukannya dengan sungguh-sungguh.
        Selama melakukan observasi saya melihat banyak siswa siswi yang masih bercerita-cerita walaupun gurunya sudah masuk. Perilaku mereka awalnya membuat saya kesal, namun demi tugas observasi saya tidak boleh mengintervensi perilaku siswa siswi di kelas. Saya juga merasa kesel ketika guru menanyakan sesuatu yang umum namun mereka tidak ada yang bisa menjawabnya. Saya jadi merasa kasihan dengan guru yang membawakan materi tersebut.
        Setelah selesai observasi dari kelas kami melanjudkan dengan mewawancari guru pemateri. Dia cukup kooperatif dan ramah saat diwawancari. Kami cukup senang dengan sikap guru seperti itu, karena awalnya saya berpikir bahwa guru tersebut galak. Syukurlah gurunya tidak seperti yang saya pikirkan.

2.        Netova Sibuea (121301058)
Diberikan tugas observasi tentang e-learning, mikirnya langsung ke sekolah internasional. Tapi selama proses diskusi, akhirnya SMA saya dulu yang dipilih jadi objek observasi. Waktu meminta izin Kepala Sekolah, Puji Tuhan disambut dengan sangat baik dan diberikan kemudahan untuk kelompok.
Selama observasi, “dagdigdug” rasanya karena nyatanya berdiri di depan adik-adik sebagai seorang alumni. Tadinya, pas di SMA lebih ke guru (yang pada saat itu Bapak Kepala Sekolah yang mengajar) yang banyak evaluasi, kemarin ketika observasi jadi terkesan saya yang sedikit evaluasi karena dari pernyataan dan pertanyaan ada hal-hal yang mungkin baru didengar oleh bapak kepala sekolah.
Menanggapi e-learning di sekolah saya ini, sebenarnya masih jarang digunankan, dan itupun hanya bagi sebagian guru. Sebagai alumni dan tentunya sebagai mahasiswa Psikologi, ada beberapa hal yang saya ingin bagikan kepada sekolah, misalnya: di zaman sekarang sangat erat kaitannya antara media elektronik dan pembelajaran, sehingga sudah seharusnya sekolah bisa lebih terbuka dengan e-learning karena banyak hal yang sebenarnya bisa didapatkan.
Di akhir pertemuan, kami tak lupa memberikan reward atas partisipasi murid dan juga guru yang mengajar pada saat itu. Tak lupa juga kami berfoto bersama. Bersyukur karena mereka ramah dan mau mengikuti prosedur yang kami minta. Pengalaman yang menarik buat saya.

3.        Hengki Farnando Sitanggang (121301076)
Tugas observasi ini cukup baik. Sebelum observasi dilakukan perencanaan tentang pembagian tugas masing-masing, sehingga akhirnya pada saat observasi saya tidak bingung akan mengerjakan apa dan hal ini tentunya membuat proses lebih lancar. Selama proses observasi di dalam kelas, kesannya cukup baik karena kelompok diterima kehadirannya dengan baik di dalam kelas.

4.        Delius Fridolin Marpaung (121301096)
Tugas observasi ini menjadi yang pertama kali ketika menginjakkan kaki di Fakultas Psikologi. Walaupun cukup berat ketika dibayangkan diawalnya mengingat bahwa mata kuliah Observasi belum kami dapatkan. Hal yang pertama kali terbayang adalah seperti mengambil alih kelas dengan orang-orang yang belum dikenal sebelumnya.
Selama persiapan untuk tugas ini, cukup sulit awalnya karena sasaran sekolah sebelumnya belum ada. Kemudian, saya dan teman saya Hengki pergi mencari sekolah yang bertaraf internasional karena beranggapan bahwa sekolah yang demikian sudah pasti ada yang menggunakan e-learning. Singapore International School, Djuwita, dan Nanyang International School kami datangi, namun akhirnya Methodist 1 yang jadi tujuan.
Di hari H, kami membelikan buah tangan. Selama proses observasi, cukup lancar, dan pada akhir pertemuan, cukup senang rasanya karena ada feedback dari murid. Kami memperkenalkan juga tentang Fakultas Psikologi, dan bangga rasanya karena murid terlihat mulai terbuka pikirannya tentang psikologi.

5.        Imelda Anggraeni Sibarani (121301100)

Saya merasa senang bisa mengobservasi sekolah karena aplikasi belajar psikologi pendidikan itu tampak lebih nyata. Trus, kita jadi lebih ngerti karena ada observasi langsung, dan ga hanya belajar di kelas aja. Yaa… walaupun awalnya cukup susah mencari sekolah yang mau diobservasi, tapi akhirnya kami menemukan SMA Methodist I.

Senin, 27 Mei 2013

Perkembangan Emosi pada Anak Usia antara 3 sampai 5 tahun 
  1. Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan anak lain, bergurau dan melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
  2. Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu peristiwa bisa menimbulkan reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang. Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang kalah akan sedih.
Perkembangan Emosi pada Anak Usia antara 5 sampai 12 tahun 
  1. Pada usia 5-6 anak mulai mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan dan rahasia. Anak mulai mampu menjaga rahasia. Ini adalah keterampilan yang menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasi- informasi secara.
  2. Anak usia 7-8 tahun perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan orang lain.
  3. Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negatif seperti takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol (Suriadi & Yuliani, 2006).
  4. Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.
1.        SLB E – TUNALARAS
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Jadi anak dimaksud disini adalah anak yang mengalami hambatan/kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial, bertingkah laku menyimpang dari norma-norma yang berlaku dan dalam kehidupan sehari-hari sering disebut anak nakal sehingga dapat meresahkan/ mengganggu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan SLB E ini diadakan untuk anak yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri atau pernah melakukan kejahatan. Pendidikan ini ada baiknya dimulai sejak umur 6-18 tahun. Anak tunalaras biasanya ditandai dengan gejala sebagai berikut:gangguan emosi dan gangguan sosial, seperti berbohong, menipu, mencuri, rasa rendah diri berlebihan seperti sering minta maaf, takut tampil dimuka umum, dan takut berbicara,merendahkan harga diri seperti bernada murung, cepat tersinggung, dan melakukan kejahatan.

A.       Karakteristik Akademik
Kelainan perilaku akan mengakibatkan adanya penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk. Akibat penyesuaian yang buruk tersebut maka dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut.
1.        Pencapaian hasil belajar yang jauh di bawah rata-rata.
2.        Sering kali dikirim ke kepala sekolah atau ruangan bimbingan untuk tindakan discipliner.
3.        Sering kali tidak naik kelas atau bahkan ke luar sekolahnya.
4.        Sering kali membolos sekolah.
5.        Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan dengan alasan sakit, perlu istirahat.
6.        Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat panggilan dari petugas kesehatan atau bagian absensi.
7.        Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi.
8.        Lebih sering menjalani masa percobaan dari yang berwewenang.
9.        Lebih sering melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran tanda-tanda lalu lintas.
10.    Lebih sering dikirim ke klinik bimbingan.

B.       Pendidikan
1.        Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler. Jika diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal bersama-sama kawannya di kelas, hanya mereka mendapat perhatian dan layanan khusus.
2.        Kelas khusus apabila anak tunalaras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas. Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
3.        Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras tanpa asrama Bagi Anak Tunalaras yang perlu dipisah belajarnya dengan kata kawan yang lain karena kenakalannya cukup berat atau merugikan kawan sebayanya.
4.        Sekolah dengan asrama. Bagi mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan kawan maupun dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama adalah untuk keperluan penyuluhan.

C.       Kebutuhan Pendidikan Anak Tunalaras
Sesuai dengan karakteristik anak tunalaras yang telah dikemukakan maka kebutuhan pendidikan anak tunalaras diharapkan dapat mengatasi problem perilaku anak tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1.        Berusaha mengatasi semua masalah perilaku akibat kelainannya dengan menyesuaikan lingkungan belajar maupun proses pembelajaran yang sesuai dengan kondisi anak tunalaras.
2.        Berusaha mengembangkan kemampuan fisik sebaik-baiknya, mengembangkan bakat dan kemampuan intelektualnya.
3.        Memberi keterampilan khusus untuk bekal hidupnya.
4.        Memberi kesempatan sebaik-baiknya agar anak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan atau terhadap norma-norma hidup di masyarakat.
5.        Memberi rasa aman, agar mereka memiliki rasa percaya diri dan mereka merasa tidak tersia-siakan oleh lingkungan sekitarnya.
6.        Menciptakan suasana yang tidak menambah rasa rendah diri, rasa bersalah bagi anak tunalaras. Untuk itu, guru perlu memberi penghargaan atas prestasi yang mereka tampilkan sehingga mereka merasa diterima oleh lingkungannya.

D.       Desain Belajar
Di dalam SLB E ini, gaya penataan kelas yang dipakai adalah gaya klaster, dimana beberapa individu membentuk sebuah kelompok kecil, dan kemudian masing-masing kelompok dipegang oleh pendamping. Untuk hal lain yang berhubungan dengan karakteristik atau pola pembelajaran di SLB E ini adalah:
1.        Sistem Pengajaran
a.         Sistem pengajaran yang bersifat penyuluhan (remedial teaching). Tujuan pengajaran ini adalah membantu murid dalam kesulitan belajar.
b.        Sistem pengajaran klasikal.

2.        Program Bimbingan penyuluhan
a.       Program bimbingan penyuluhan suasana hidup beragama di asrama
b.      Program keterampilan
c.       Program belajar di sekolah regular
d.      Program bimbingan kesenian
e.       Program kembali ke orang tua
f.       Program kembali ke masyarakat
1.        SLB D – TUNADAKSA
Tunadaksa adalah keadaan dimana seorang individu mengalami kerusakan sebagian dari tubuhnya, seperti adanya kerusakan organ tubuh dan lain sebagainya atau dengan kata lain mengalami ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi kerja anggota tubuh secara normal, sehingga membutuhkan alat khusus tertentu untuk membantunya dalam beraktivitas. Di Indonesia sendiri, sekolah SLB D ini belum terlalu sering kita jumpai. Adapun tujuan daripada pendidikan SLB D ini adalah agar individu yang mengalami kerusakan organ tubuhnya tetapi bisa mengembangkan kemampuan serta bakat mereka, hingga akhirnya anak tunadaksa memiliki hidup yang bermanfaat.

A.       Tujuan Pembelajaran
1.        Membantu penderita tunadaksa untuk mengembangkan kemampuan dan mengoptimalkan perkembangan kognitifnya.
2.        Mengembangkan serta mengoptimalkan kematangan afektif maupun emosi anak.
3.        Mematangkan moral dan spiritual dengan mengajarkan kepada penyandang tunadaksa untuk tidak merasa lain dan tetap bersyukur atas keadaannya, menjadikan penyandang menjadi manusia sejati, walaupun memiliki kekurangan.
4.        Meningkatkan ekspresi diri.
5.        Mempersiapkan masa depan serta kemandirian anak.

B.       Pendidikan
Walaupun pendidikan anak tunadaksa di Indonesia banyak dilakukan melalui jalur sekolah khusus, yaitu anak tunadaksa ditempatkan secara khusus di SLB D, namun anak tunadaksa ringan (jenis poliomyelitis) telah ada yang mengikuti pendidikan di sekolah biasa. Sementara ini anak tunadaksa yang mengikuti pendidikan di sekolah umum harus mengikuti pendidikan sepenuhnya tanpa memperoleh program khusus sesuai dengan kebutuhannya
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan oleh guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas khusus tunadaksa:
1.        Keluasan Gerak
Jenis dan tingkat gangguan fisik yang dialami oleh tunadaksa sangat bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Berkaitan dengan kebervariasian tersebut maka hal penting yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana agar anak dapat mengakses ke semua penjuru layanan pendidikan di sekolah dengan memperhatikan keleluasaan gerak anak. Masalah akses utama adalah yang berkaitan dengan akses menuju gedung sekolah, ruangan kelas, dan fasilitas sekolah lainnya (ruang perpustakaan, laboratorium, ruangan kesenian, ruang olahraga, dan toilet).

2.        Latihan Keterampilan Menolong Diri (Self Help)
Anak-anak berkelainan fisik dalam beberapa hal sangat membutuhkan latihan membantu diri (self help). Self help sangat dibutuhkan anak terutama yang berkaitan dengan aktivitas mereka sehari-hari baik di sekolah, rumah, maupun di lingkungan umum. Hal tersebut diharapkan anak bisa mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain. Contohnya kegiatan makan dan minum, kegiatan yang melibatkan motorik halus (menggambar, menulis, melipat), keterampilan buang air kecil. Hal-hal tersebut merupakan hal yang penting yang harus dikuasai anak di sekolah.

3.        Kebutuhan Psikososial
Hambatan fisik pada anak memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan psikologisnya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa tunadaksa memiliki kesulitan dalam mengembangkan self esteem yang positif dan mengalami kecemasan yang lebih besar dibandingkan anak normal lainnya. Untuk mendukung agar anak tunadaksa memiliki sifat self esteem yang positif, maka seluruh anggota keluarga, guru di sekolah, dan teman-teman sebaya di kelas harus memberikan dukungan dan bisa menerima anak dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Dengan dukungan yang positif ini diharapkan anak dapat menerima keadaan dirinya secara positif dan pada akhirnya menumbuhkan minat atau motivasi berprestasi di sekolah.

C.       Pengajar/ Pendamping
Untuk SLB D ini, adapun tenaga pengajar yang dipakai adalah pengajar yang telah mengikuti pelatihan khusus dan berpengalaman membimbing anak tunadaksa. Para ahli seperti psikolog, terapis, dokter, dan ahli lain yang berperan dalam pengamatan perkembangan kesehatan siswa.

D.       Desain Belajar
1.        Instruksi pelajaran: Teacher Center Learning
2.        Menciptakan sasaran behavioral:
a.         Fokus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
b.        Menyatakan bagaimana perilaku akan dievaluasi atau dites (kondisi dimana perilaku terjadi).
c.         Menetukan level kinerja yang dapat diterima.
3.        Analisis tugas, difokuskan pada pemecahan tugas kompleks yang dipelajarin murid menjadi komponen-komponen. Analisis tugas dilakukan dengan 3 langkah dasar:
a.         Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
b.        Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator, dsb.
c.         Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.
4.        Penataan kelas menggunakan gaya tatap muka. Penataan kelas dengan gaya ini sangat mendukung proses belajar siswa dan membantu sosialisasi siswa. Dan dengan menggunakan penataan kelas seperti ini proses belajar TCL dapat terjadi dengan efektif.
5.        Perabot dalam kelas harus bersih dan aman, bangku ditata sedemikian rupa agar siswa tidak saling menghalangi, materi harus disimpan di tempat yang sama sepanjang tahun ajaran, tempat penyimpanan alat belajar dan bermain harus jauh dari jangkauan siswa.

6.        Kelas harus terang dan guru sebisanya menciptakan kelas yang menyenangkan dengan banyak materi.