Senin, 27 Mei 2013

1.        SLB C dan C1 – TUNAGRAHITA MAMPU DIDIK & MAMPU LATIH
Tuna grahita adalah keadaan keterbelakangan mental, keadaan ini juga disebut retardasi mental.
A.       Tujuan Pembelajaran
Melalui SLB ini, penderita tuna grahita diharapkan mampu mempelajari berbagai keterampilan. SLB untuk tuna grahita menekankan pada bina diri dan sosialisasi.

B.       Pendidikan
SLB ini difasilitasi dengan pengajar khusus untuk tuna grahita didampingi oleh psikolog dan tim medis yang diperlukan untuk memantau perkembangan anak tuna grahita tersebut.

C.       Pengajar/ Pendamping
SLB ini difasilitasi dengan pengajar khusus untuk tuna grahita didampingi oleh psikolog dan tim medis yang diperlukan untuk memantau perkembangan anak tuna grahita tersebut.

D.       Desain Belajar
Pembelajaran yang digunakan dalam SLB ini adalah Teacher Centered Learning (TCL). Kelas dibuat berwarna-warni agar anak tidak merasa jenuh dalam belajar. SLB ini lebih difokuskan dalam hal terapi gerak, terapi bermain, kemampuan merawat diri, dan keterampilan hidup. Misalnya anak diajak untuk mencontoh gerakan-gerakan senam sederhana setiap hari, belajar mencuci tangan dan kaki ketika kotor, memainkan permainan sederhana secara berkelompok, belajar merapikan rambut sendiri (untuk anak perempuan), belajar menyanyikan lagu-lagu berlirik pendek secara bersama-sama, dll.
DESAIN SEKOLAH
PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (PABK)
(SLB A, SLB B, SLB C, SLB C1, SLB D, SLB E)

Oleh
Kelompok 11
Boy Ridho V. Pasaribu (121301044)
Netova Sibuea (121301058)
Hengki Farnando Sitanggang (121301076)
Delius Fridolin M (121301096)
Imelda Anggraeni Sibarani (121301100)



1.        SLB A – TUNANETRA
Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Vision). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tunanetra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

A.       Tujuan Pembelajaran
1.        Membantu penderita tunanetra untuk mengembangkan kemampuan dan mengoptimalkan perkembangan kognitifnya.
2.        Membantu mencarikan solusi atas minatnya penyandang tunanetra dengan konsep belajar sambil melakukan aktifitas lainnya.
3.        Mengembangkan serta mengoptimalkan kematangan afektif maupun emosi anak dengan melibatkan semua murid berinteraksi bersama sesama penyandang tunanetra.
4.        Mematangkan moral dan spiritual dengan mengajarkan kepada penyandang tunanetra untuk tidak merasa lain dan tetap bersyukur atas keadaannya, menjadikan penyandang menjadi manusia sejati, walaupun memiliki kekurangan.
5.        Meningkatkan ekspresi diri, misalnya dengan pembelajaran alat musik, atau bahkan bernyanyi. Sama seperti kasus kebanyakan sekarang, dimana para penyandang tune netra sudah jauh lebih baik hidupnya dengan tersalurkannya ekspresi diri ke dalam bentuk kegiatan lain.
6.        Mempersiapkan masa depan serta kemandirian anak dengan cara melatih anak membaca huruf braille, melakukan pekerjaan tanpa harus banyak merepotkan orang lain, sehingga pada akhir pembelajaran, diharapkan siswa SLB A ini bisa beradaptasi diluar lingkungan sekolah.

B.       Pendidikan
Sesuai dengan tujuan utama pembelajaran di SLB A ini, dan mengingat murid-murid di dalamnya adalah orang-orang dengan gangguan atau pun hambatan indra pengelihatan, maka sistem pendidikan yang kami gunakan adalah dengan menggunakan teknologi pendukung jaman sekarang yang disesuaikan dengan perkembangannya.
Perkembangan teknologi informasi saat ini telah banyak digunakan untuk membantu para tunanetra. Penggunaan program seperti JAWS (pembaca layar) membuat pengoperasian komputer menjadi dimungkinkan oleh para tunanetra. Kegiatan membaca buku yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh tunanetra selain menggunakan huruf braille, kini dapat dilakukan dengan bantuan alat pemindai (bahasa Inggris: scanner). Dengan menggunakan perangkat tersebut pada komputer yang telah dilengkapi dengan piranti lunak pembaca layar, pengguna cukup meletakkan buku di atas kaca pemindai dan program akan langsung membacanya dari teks yang direproduksi oleh komputer. Adapun, penggunaan alat khusus lainnya adalah seperti:
ü  Reglet dan Pena
ü  Mesin Tik Braille
ü  Printer Braille
ü  Abacus

C.       Pengajar/ Pendamping
Adapun pengajar ataupun pendamping yang kami tugaskan dalam SLB A ini adalah: guru khusus anak berkebutuhan khusus, psikolog, dokter mata dan komponen orang tua.

D.       Desain Belajar
Kami mendesain lingkungan pembelajaran sedemikian rupa agar semua tujuan pendidikan diatas dapat tercapai maksimal, yaitu dengan desain:
1.        Menandai jalan-jalan utama dan menuntun murid-murid penyandang tunanetra untuk mengetahui keberadaannya dimana dengan bantuan jalan setapak yang didesain lebih kasar permukaan lantainya dibandingkan lantai biasa.
2.        Desain ruang kelas yang tidak terlalu besar, sehingga memungkinkan pengajar dan pendamping mampu menjangkau seluruh siswa.
3.        Siswa tunanetra disatukan bersama dalam jumlah yang efektif, sehingga memungkinkan pola interaksi sosial agar tercipta dengan baik.
4.        Siswa lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan bebas, sehingga anak tidak terkekang dan bisa mengekspresikan diri sambil belajar hal-hal yang membuat anak lebih mandiri.
5.        Untuk Manajemen Kelas, digunakan gaya otoritarian, dimana pembelajaran bukan sebagai fokus utama, melainkan lebih terfokus pada kondisi kenyamanan kelas. Dan untuk penataan kelas, yang digunakan adalah gaya klaster, dimana anak akan membentuk kelompok kecil untuk kemudian masing-masing memiliki pendamping.

6.        Kondisi kelas yang nyaman, rapi, kursi yang aman buat penyandang tunanetra, lantai yang tidak lembab, dan manajemen peralatan yang baik sehingga memungkinkan kondisi kelas tidak berbahaya bagi penyandang tunanetra.
DESAIN SEKOLAH
PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (PABK)
(SLB A, SLB B, SLB C, SLB C1, SLB D, SLB E)

Oleh
Kelompok 11
Boy Ridho V. Pasaribu (121301044)
Netova Sibuea (121301058)
Hengki Farnando Sitanggang (121301076)
Delius Fridolin M (121301096)
Imelda Anggraeni Sibarani (121301100)



1.        SLB A – TUNANETRA
Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Vision). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tunanetra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

A.       Tujuan Pembelajaran
1.        Membantu penderita tunanetra untuk mengembangkan kemampuan dan mengoptimalkan perkembangan kognitifnya.
2.        Membantu mencarikan solusi atas minatnya penyandang tunanetra dengan konsep belajar sambil melakukan aktifitas lainnya.
3.        Mengembangkan serta mengoptimalkan kematangan afektif maupun emosi anak dengan melibatkan semua murid berinteraksi bersama sesama penyandang tunanetra.
4.        Mematangkan moral dan spiritual dengan mengajarkan kepada penyandang tunanetra untuk tidak merasa lain dan tetap bersyukur atas keadaannya, menjadikan penyandang menjadi manusia sejati, walaupun memiliki kekurangan.
5.        Meningkatkan ekspresi diri, misalnya dengan pembelajaran alat musik, atau bahkan bernyanyi. Sama seperti kasus kebanyakan sekarang, dimana para penyandang tune netra sudah jauh lebih baik hidupnya dengan tersalurkannya ekspresi diri ke dalam bentuk kegiatan lain.
6.        Mempersiapkan masa depan serta kemandirian anak dengan cara melatih anak membaca huruf braille, melakukan pekerjaan tanpa harus banyak merepotkan orang lain, sehingga pada akhir pembelajaran, diharapkan siswa SLB A ini bisa beradaptasi diluar lingkungan sekolah.

B.       Pendidikan
Sesuai dengan tujuan utama pembelajaran di SLB A ini, dan mengingat murid-murid di dalamnya adalah orang-orang dengan gangguan atau pun hambatan indra pengelihatan, maka sistem pendidikan yang kami gunakan adalah dengan menggunakan teknologi pendukung jaman sekarang yang disesuaikan dengan perkembangannya.
Perkembangan teknologi informasi saat ini telah banyak digunakan untuk membantu para tunanetra. Penggunaan program seperti JAWS (pembaca layar) membuat pengoperasian komputer menjadi dimungkinkan oleh para tunanetra. Kegiatan membaca buku yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh tunanetra selain menggunakan huruf braille, kini dapat dilakukan dengan bantuan alat pemindai (bahasa Inggris: scanner). Dengan menggunakan perangkat tersebut pada komputer yang telah dilengkapi dengan piranti lunak pembaca layar, pengguna cukup meletakkan buku di atas kaca pemindai dan program akan langsung membacanya dari teks yang direproduksi oleh komputer. Adapun, penggunaan alat khusus lainnya adalah seperti:
ü  Reglet dan Pena
ü  Mesin Tik Braille
ü  Printer Braille
ü  Abacus

C.       Pengajar/ Pendamping
Adapun pengajar ataupun pendamping yang kami tugaskan dalam SLB A ini adalah: guru khusus anak berkebutuhan khusus, psikolog, dokter mata dan komponen orang tua.

D.       Desain Belajar
Kami mendesain lingkungan pembelajaran sedemikian rupa agar semua tujuan pendidikan diatas dapat tercapai maksimal, yaitu dengan desain:
1.        Menandai jalan-jalan utama dan menuntun murid-murid penyandang tunanetra untuk mengetahui keberadaannya dimana dengan bantuan jalan setapak yang didesain lebih kasar permukaan lantainya dibandingkan lantai biasa.
2.        Desain ruang kelas yang tidak terlalu besar, sehingga memungkinkan pengajar dan pendamping mampu menjangkau seluruh siswa.
3.        Siswa tunanetra disatukan bersama dalam jumlah yang efektif, sehingga memungkinkan pola interaksi sosial agar tercipta dengan baik.
4.        Siswa lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan bebas, sehingga anak tidak terkekang dan bisa mengekspresikan diri sambil belajar hal-hal yang membuat anak lebih mandiri.
5.        Untuk Manajemen Kelas, digunakan gaya otoritarian, dimana pembelajaran bukan sebagai fokus utama, melainkan lebih terfokus pada kondisi kenyamanan kelas. Dan untuk penataan kelas, yang digunakan adalah gaya klaster, dimana anak akan membentuk kelompok kecil untuk kemudian masing-masing memiliki pendamping.

6.        Kondisi kelas yang nyaman, rapi, kursi yang aman buat penyandang tunanetra, lantai yang tidak lembab, dan manajemen peralatan yang baik sehingga memungkinkan kondisi kelas tidak berbahaya bagi penyandang tunanetra.

Kamis, 23 Mei 2013

PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (PABK)
(SLB A, SLB B, SLB C, SLB C1, SLB D, SLB E)

Oleh
Kelompok 11
Boy Ridho V. Pasaribu (121301044)
Netova Sibuea (121301058)
Hengki Farnando Sitanggang (121301076)
Delius Fridolin M (121301096)
Imelda Anggraeni Sibarani (121301100)


1.        SLB A – TUNANETRA
Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Vision). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tunanetra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

A.   Tujuan Pembelajaran
1. Membantu penderita tunanetra untuk mengembangkan kemampuan dan mengoptimalkan
    perkembangan kognitifnya.
2. Membantu mencarikan solusi atas minatnya penyandang tunanetra dengan konsep belajar
    sambil melakukan aktifitas lainnya.
3. Mengembangkan serta mengoptimalkan kematangan afektif maupun emosi anak dengan
    melibatkan semua murid berinteraksi bersama sesama penyandang tunanetra.
4. Mematangkan moral dan spiritual dengan mengajarkan kepada penyandang tunanetra
    untuk tidak merasa lain dan tetap bersyukur atas keadaannya, menjadikan penyandang
    menjadi manusia sejati, walaupun memiliki kekurangan.
5. Meningkatkan ekspresi diri, misalnya dengan pembelajaran alat musik, atau bahkan
    bernyanyi. Sama seperti kasus kebanyakan sekarang, dimana para penyandang tune netra
    sudah jauh lebih baik hidupnya dengan tersalurkannya ekspresi diri ke dalam bentuk
    kegiatan lain.
6. Mempersiapkan masa depan serta kemandirian anak dengan cara melatih anak membaca
    huruf braille, melakukan pekerjaan tanpa harus banyak merepotkan orang lain, sehingga
    pada akhir pembelajaran, diharapkan siswa SLB A ini bisa beradaptasi diluar lingkungan
    sekolah.

B.       Pendidikan
          Sesuai dengan tujuan utama pembelajaran di SLB A ini, dan mengingat murid-murid di dalamnya adalah orang-orang dengan gangguan atau pun hambatan indra pengelihatan, maka sistem pendidikan yang kami gunakan adalah dengan menggunakan teknologi pendukung jaman sekarang yang disesuaikan dengan perkembangannya.
    Perkembangan teknologi informasi saat ini telah banyak digunakan untuk membantu para tunanetra. Penggunaan program seperti JAWS (pembaca layar) membuat pengoperasian komputer menjadi dimungkinkan oleh para tunanetra. Kegiatan membaca buku yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh tunanetra selain menggunakan huruf braille, kini dapat dilakukan dengan bantuan alat pemindai (bahasa Inggris: scanner). Dengan menggunakan perangkat tersebut pada komputer yang telah dilengkapi dengan piranti lunak pembaca layar, pengguna cukup meletakkan buku di atas kaca pemindai dan program akan langsung membacanya dari teks yang direproduksi oleh komputer. Adapun, penggunaan alat khusus lainnya adalah seperti:
Reglet dan Pena
-  Mesin Tik Braille
-  Printer Braille
-  Abacus

C.      Pengajar/ Pendamping
Adapun pengajar ataupun pendamping yang kami tugaskan dalam SLB A ini adalah: guru khusus anak berkebutuhan khusus, psikolog, dokter mata dan komponen orang tua.

D.     Desain Belajar
Kami mendesain lingkungan pembelajaran sedemikian rupa agar semua tujuan pendidikan diatas dapat tercapai maksimal, yaitu dengan desain:
1.  Menandai jalan-jalan utama dan menuntun murid-murid penyandang tunanetra untuk mengetahui keberadaannya dimana dengan bantuan jalan setapak yang didesain lebih kasar permukaan lantainya dibandingkan lantai biasa.
2. Desain ruang kelas yang tidak terlalu besar, sehingga memungkinkan pengajar dan pendamping mampu menjangkau seluruh siswa.
3.  Siswa tunanetra disatukan bersama dalam jumlah yang efektif, sehingga memungkinkan pola interaksi sosial agar tercipta dengan baik.
4. Siswa lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan bebas, sehingga anak tidak terkekang dan bisa mengekspresikan diri sambil belajar hal-hal yang membuat anak lebih mandiri.
5. Untuk Manajemen Kelas, digunakan gaya otoritarian, dimana pembelajaran bukan sebagai fokus utama, melainkan lebih terfokus pada kondisi kenyamanan kelas. Dan untuk penataan kelas, yang digunakan adalah gaya klaster, dimana anak akan membentuk kelompok kecil untuk kemudian masing-masing memiliki pendamping.
6.  Kondisi kelas yang nyaman, rapi, kursi yang aman buat penyandang tunanetra, lantai yang tidak lembab, dan manajemen peralatan yang baik sehingga memungkinkan kondisi kelas tidak berbahaya bagi penyandang tunanetra.

Minggu, 12 Mei 2013

Biografi Carl Gustav Jung

             Carl Gustav Jung lahir pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil, Switzreland. Ayahnya, Johann Paul Jung adalah seorang pendeta di Swiss Reformed Church. Sedang ibunya, Emilie Preiswerk adalah putri dari seorang teologian. Kakek dari ayahnya, yang juga bernama Carl Gustav Jung adalah seorang dokter terkenal di Basel. Dalam keluarganya, pengaruh agama dan medis sangat ketara dalam keluarganya. Ini dapat dilihat dari pekerjaan ayah, kakek, dan 10 pamannya adalah seorang pastur.
             Masa kecil, Jung menaruh perhatian yang kuat pada arkeologi, meski Jung juga tertarik pada philology, filsafat, sejarah, dan ilmu alam. Walaupun sekilas ia memiliki latar keturunan yang cukup aristokratik, Jung memiliki sumber dana yang terbatas. Keterbatasan dana inilah yang kemudian memaksa Jung untuk memilih bersekolah di Basel University yang tidak memiliki guru arkeologi, dan memilih bidang studi ilmu alam, hingga menyempit pada medis, kemudian semakin menyempit pada pilihan psikiatri.
Tahun 1900 gelar medis di peroleh dari Basel Universty dan menjadi seorang esisten psikiater, Eugene Blueler di Burgholtzli Mental Hospital di Zurich. Namun dua tahun kemudian ia belajar di Paris pada Pierre Janet, pengganti Charcot selama enam bulan. Setelah itu ia kemudian kembali ke Swiss dan menikah dengan seorang putri keturunan darah biru, Emma Rauschembach. Mulai mengajar di University of Zurich pada tahun 1905.
Relasinya dengan Freud bermula ketika ia memulai korespondensi dengan Freud pada tahun 1906. Korespondensi ini terus berlanjut, hingga pada tahun 1907 Freud mengundang Jung beserta istrinya ke Vienna. Dari sinilah Jung dan Freud memulai relasinya.
Freud percaya bahwa Jung adalah orang yang ideal untuk menjadi penerusnya. Selain itu, Freud memiliki perasaan yang hangat pada Jung dan menganggap Jung sebagai orang yang memiliki intelektualitas yang tinggi. Kualifikasi inilah yang kemudian membuat Freud menjadikan Jung sebagai pasien pertama di International Psychoanalytic Association.
Tahun 1909, G. Stanley Hall dari Clark University mengundang Jung dan Freud untuk memberikan kuliah di Unversitas tersebut. Ini adalah perjalanan pertama dari sembilan kunjungan mereka ke Amerika.
Dalam Memories, Dreams, Reflections, Jung mengatakan bahwa Freud tidak mau untuk menceritakan beberapa detail tentang kehidupan pribadinya. Jung menyimpulkan bahwa selama perjalanan ke Amerika, Freud tidak bisa mengartikan mimpi Jung. Dalam salah satu mimpinya, Jung dan keluarganya tinggal di lantai dua rumahnya ketika dia berkeliling beberapa tingkat dari rumah yang ia sendiri tak mengenalnya. Di tingkat paling bawah, ia menemukan dua tengkorak manusia yang sangat tua dan hancur.
Namun bagi Jung, Freud telah gagal dalam mengaplikasikan teorinya dalam menafsirkan mimpi Jung. Freud memaksa Jung untuk mengasosiasikan tengkorak tersebut dengan beberapa keinginan.”Siapa yang diharapkan mati oleh Jung?” Jung menjawab dalam buku autobiografinya, “Pada saat itu aku baru saja menikah dan sangat tahu bahwa tidak ada sesuatu dalam diriku yang menunjukkan keinginan seperti itu.”
Walau interpretasi Jung tentang mimpinya mungkin lebih akurat ketimbang Freud, sangat mungkin, Jung menginginkan kematian istrinya. Sebenarnya pada saat itu, Jung sudah dalam usia 7 tahun pernikahannya. Dan selama 5 tahun Jung terlibat relasi dengan seorang mantan pasien Sabina Spieelrein.
Dalam buku autobiografinya ada nama yang tidak disebutkan walau sebenarnya ia terlibat dalam kehidupan Jung, yaitu Antonia Wolff. Jung dan Wolff tidak berupaya untuk menutup-menutupi hubungan mereka, dan Emma, istri Jung menyadari bahwa Wolff bisa berbuat lebih banyak untuk Jung daripada dia atau yang lain. Sehingga baginya ia patut untuk menyukuri ini.
             Maka segera setelah Jung dan Freud kembali dari perjalanan mereka ke Amerika, perbedaan personal dan teoretikal menjadi semakin intens sementara persahabatan mereka mendingin. Berujung pada tahun 1913 mereka mengakhiri koresponden pribadi mereka dan tahun berikutnya, Jung mengakhiri keanggotaannya di International Psychoanalytic Association.
Tahun-tahun setalah putusnya hubungan mereka, Jung penuh dengan kesepian dan analisis diri. Dari desember 1913 hingga 1917, dia mengalami pengalaman paling kuat dan berbahaya sepanjang hidupnya. Marvin Goldwert (1992) menyebut masa hidup Jung ini sebagai creative illness. Istilah yang pernah dipakai oleh Henri Ellenberger (1970) untuk mendeskripsikan Freud beberapa tahun setelah kematian ayahnya. Keduanya memulai mencari diri mereke sendiri pada akhir umur 30 dan awal umur 40an: Freud sebagai bentuk reaksi dari kematian ayahnya, dan Jung karena pemisahannya dari Freud. Keduanya mengalami kesepian dan isolasi. Namun, lewat kasus ini, Jung akhirnya berhasil menyusun teori kepribadiannya yang unik.
Pada tahun 1944, dia menjadi profesor psikologi medis di Unversity of Basel, namun, masalah kesehatan memaksa Jung untuk mengundurkan diri setahun kemudian. Sepeninggal istrinya tahun 1955, Jung banyak menyendiri hingga wafat di Zurich, 6 Juni 1961 di usianya yang ke 86. Pada waktu ia meninggal, reputasi Jung sudah mendunia.

Jumat, 26 April 2013

PENDIDIKAN ANAK PRA SEKOLAH


Salah satu tokoh pendidikan anak pra sekolah adalah Friederich Wilhelm August Fröbel.Fröbel lebih menekankan pada pemanfaatan symbolisme dalam teori dan praktiknya karena ia meyakini bahwa dalam nalar anak telah ada permulaan gagasan tentang hal-hal tertentu. Ia menekankan metode belajar dengan berbuat seperti bermain, menyanyi, menggambar, memelihara alam, dsb. Serta mengembangkan anak sesuai tabiat dasarnya dengan metode berdoa, percakapan, menghafalkan walaupun hanya tahap sekunder, mengucapkan jawaban secara bersama2 dan berirama, bertanya, dan bercerita.

CIRI ANAK PRA SEKOLAH

1) Ciri Fisik Anak Prasekolah.
         a) Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan terhadap tubuhnya.
         b) Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup,           seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup.
         c) Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan.
         d) Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil ukurannya.
         e) Walaupun tubuh anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft).
         f) Walaupun anak lelaki lebih besar, anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas motorik halus, tetapi sebaiknya jangan mengkritik anak lelaki apabila ia tidak terampil, jauhkan dari sikap membandingkan anak lelaki-perempuan, juga dalam kompetisi ketrampilan seperti apa yang disebut diatas.


2) Ciri Sosial Anak Prasekolah
        a) Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
       b) Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
      c) Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar.


3) Ciri Emosional Pada Anak Prasekolah
       Anak pra sekolah cenderung mengekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut. Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

4) Ciri Kognitif Anak Prasekolah
       Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara, khususnya dalam kelompoknya, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk berbicara, sebagian dari mereka dilatih untuk menjadi pendengar yang baik. 

        Seringkali muncul pertanyaan dikalangan masyarakat, apa manfaat pendidikan pra sekolah tersebut?
Pendidikan pra sekolah seperti Play Group/ Taman Kanak-kanak (PG/TK) adalah untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Biasanya anak yang mendapatkan pendidikan prasekolah lebih siap melanjutkan proses belajarnya. Pendidikan prasekolah selain mendidik anak sambil bermain, umumnya juga berfokus pada pengembangan kemandirian, kedisiplinan, dan yang paling penting adalah kehidupan sosial pada anak.

        Pemilihan sekolah sebagai lembaga yang memberikan layanan pendidikan anak usia dini menjadi hal yang harus diperhatikan, mengingat banyak sekolah yang masih belum menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak
Beberapa diantaranya masih menerapkan pembelajaran konvensional yang satu arah. Anak masih dijadikan objek pembelajaran, bukan subjek pembelajaran sehingga. kretaivitas anak seperti digembok. Belum lagi, peletakan bermain yang hanya sebagai selingan kegiatan belajar, bukan inti pembelajaran. Padahal lewat bermain-lah anak dapat belajar karena pelajaran bagi seorang anak ialah bermain.Pilihlah pendidikan pra sekolah yang lebih terarah pada kegiatan yang mendorong minat  dan persiapan kegiatan baca, tulis, hitung  (pra calistung) serta meningkatkan wawasan pengetahuan anak tentunya melalui berbagai kegiatan yang sesuai.  Ingat, persiapan.